Aku Belum Siap Jadi Boti Lagi
Nuel Elastia
---
Malam itu, lampu kamar hanya redup kuning dari lampu meja kecil.
Wajahnya memang indah—rahang tegas, mata dalam, dan senyum yang biasanya membuat lututku lemas.
Tubuhnya pun terpahat rapi, otot lengan dan dada yang terasa keras saat memelukku dari belakang.
Aku pernah mengira semua itu cukup untuk membuatku lupa rasa takut.
Tapi ternyata tidak.
Saat dia mendorong masuk, pelan tapi pasti, aku langsung tahu ini akan berbeda.
Pelumas sudah banyak, persiapan katanya sudah cukup, tapi tubuhku tidak bohong.
Ada sesuatu yang robek di dalam—bukan hanya fisik, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini kucoba tutupi dengan pura-pura berani.
Aku meringis. Napas tersengal. Tanganku mencengkeram seprai sampai buku-buku jarinya memutih.
Air mata menggenang, bukan karena haru, melainkan karena rasa sakit yang menusuk tajam, membakar, seperti ada besi panas yang diputar di dalam ususku.
“Tahan… tahan bentar lagi,” suaranya serak di telingaku, tangannya menekan pinggulku agar tak kabur.
Aku ingin percaya. Aku ingin jadi lelaki yang bisa menikmati, yang bisa mengerang nikmat seperti di cerpen-cerpen pelangi yang kubaca diam-diam di malam sunyi.
Tapi kenyataan jauh lebih kasar daripada kata-kata indah di layar ponsel.
Dia terus bergerak. Setiap dorongan terasa seperti tamparan baru.
Aku menahan isak, menelan ludah yang terasa pahit. Akhirnya dia selesai, mendesah panjang, lalu mencium tengkukku seolah itu cukup untuk menghapus semua.
Aku rebahan miring setelahnya, lutut menempel ke dada, tak berani bergerak. Setiap denyut di lubang belakangku seperti alarm yang tak mau diam.
Dia memelukku dari belakang, napasnya masih berat, tapi aku tak bisa membalas pelukan. Tubuhku kaku, pikiranku penuh kabut merah.
Seminggu lebih aku berjalan seperti orang cacat. Setiap kali BAB, ada darah segar yang menodai tisu.
Duduk di kursi keras terasa seperti hukuman. Berbaring pun harus telentang dengan bantal di bawah pinggul supaya tekanannya berkurang.
Aku jadi takut ke toilet, takut mandi, takut melihat cermin dan menyadari tubuh ini ternyata begitu rapuh.
Lalu ponsel bergetar. Namanya muncul di layar.
“Kapan lagi, sayang? Kangen nih.”
Pesan itu sederhana, biasa, seolah minggu lalu tak ada apa-apa.
Jemariku membeku di atas keyboard. Aku ingin mengetik “aku juga kangen”, tapi yang keluar hanya keheningan.
Aku membayangkan diriku kembali berlutut di hadapannya, membuka diri, berharap kali ini akan berbeda—tapi bayangan itu malah membuat perutku mual.
Mungkin aku memang bukan boti.
Mungkin aku hanya ingin dicintai, bukan digunakan. Mungkin aku lelah jadi tokoh dalam cerita orang lain yang selalu berakhir dengan erangan nikmat, sementara aku hanya tahu rasa perih dan malu yang tersisa.
Aku mematikan ponsel.
Menarik selimut sampai menutupi kepala.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku membiarkan diriku menangis—bukan karena sakit fisik, tapi karena akhirnya aku mengakui: aku tak sanggup lagi berpura-pura menikmati sesuatu yang hanya menyisakan luka.
