Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Bos Tampan yang Kesepian




Aku naik ojol sampai lobi hotel bintang empat, bau keringat campur parfum murah masih nempel di baju. 

Langsung naik tangga menuju gym di lantai 4—tempat dia janjian. 

Dia sudah berdiri di dekat mesin treadmill, kaos olahraga ketat, rambut basah, wajah bosan yang mahal. 

Matanya langsung mengenali aku, lalu tanpa banyak omong kami naik lift eksklusif ke lantai 21. 

Tamu biasa nggak bisa ke sini. Harus kartu tamu. Atau kartu kredit yang limitnya bisa bikin orang miskin pingsan.

Dia bos muda. Umur 32, lima tahun di atasku. Punya perusahaan jasa yang katanya omzetnya miliaran per bulan. 

Istri cantik, anak pejabat, perjodohan ala-ala dinasti bisnis. 

Tapi malam ini dia telanjang di atas kasur king size, kedua tangan mencengkeram sprei sampai jari-jarinya memutih, mulutnya menganga mengeluarkan erangan yang sudah nggak lagi malu-malu.

“Kontolmu… ahh… keras banget… terus… terus genjot memekku…”

Dia bilang “memekku” dengan nada memohon, padahal yang dia punya adalah lubang pantat yang sudah licin oleh lubrikan dan air liur. 

Aku top. Dia bottom. Role itu sudah jelas dari awal. Lebih dari satu setengah jam aku menggempur dia tanpa ampun. 

Ganti posisi, ganti ritme, ganti kekerasan. Dia minta kasar, aku kasih kasar. 

Dia minta pelan, aku malah tambah dalam sampai dia menjerit nama Tuhan yang entah dia percaya atau nggak.

Dua kali aku keluar di dalamnya. Dua kali dia meminta “jangan cabut dulu… biarin sebentar… rasain aku penuh sama kamu”. 

Sperma netes-netes dari lubangnya yang sudah merah dan bengkak waktu aku akhirnya menarik diri.

Aku berdiri di dekat jendela besar, masih telanjang, memegang gelas anggur merah yang rasanya hambar dibandingkan bau seks yang masih menyesak ruangan. 

Dia masih di kamar mandi, suara air shower bercampur isak kecil yang dia kira aku nggak dengar.

Kenapa nangis?  
Karena nikmat?  
Karena malu?  

Atau karena setelah ini selesai, dia harus balik ke kehidupan yang dia benci tapi nggak berani tinggalkan?

Dia keluar dengan handuk melilit pinggang, rambut basah menetes. Matanya merah. Bukan karena sabun.

“Kamu nggak mandi?” tanyanya, suara serak.

Aku geleng. Badanku sudah kering. Bau keringat, sperma, dan parfumnya sudah bercampur jadi satu. 

Aku nggak mau mandi di sini. Mandi di sini terasa seperti menerima lebih dari yang aku jual.

“Tidur aja di sini malam ini,” katanya lagi. Nada memelas yang disembunyikan di balik senyum tipis.

“Perjanjiannya nggak ada menginap,” jawabku datar.

Dia diam. Lalu mendekat. Tangan kanannya langsung meraih kontolku yang masih setengah tegang. 

Dia berlutut. Mulutnya langsung melahap. Lidahnya berputar-putar di kepala, mengisap sisa-sisa sperma yang masih ada, menggesek-gesekkan batangnya ke pipi dalamnya sampai terlihat benjolan. 

Dia berusaha keras membangkitkanku lagi, padahal aku sudah kosong. Dua kali tadi sudah kuberikan semuanya padanya.

Aku membiarkan. Bukan karena horny.  

Hanya karena aku tahu: dia bukan lagi membayar untuk seks.  
Dia membayar supaya—sebentar saja—dia tidak merasa sendirian.

Di depan pintu, seperti biasa, dia menyelipkan amplop tebal ke saku jaketku.  

“Tip tambahan,” bisiknya.  
Aku tahu isinya pasti lebih dari yang disepakati. Orang kaya selalu membayar lebih ketika mereka merasa bersalah.

Lift turun ke lobi. Driver ojol sudah nunggu. Aku naik motor, angin malam langsung menerpa wajah. 

Bau seks masih menempel di kulit, di rambut, di mulut.

Aku nggak benci pekerjaan ini.  
Aku juga nggak cinta.  
Ini cuma transaksi. Kontol, lubang, duit. Selesai.

Tapi kadang, seperti malam ini, aku merasa jijik bukan karena cairan yang menempel di badan, melainkan karena aku tahu:  
orang-orang yang paling banyak duit, paling banyak kuasa, paling banyak pilihan…  
justru yang paling kelaparan akan disentuh dengan sungguh-sungguh.

Dia punya istri, punya anak, punya rumah besar, punya nama besar.  
Tapi dia harus bayar orang asing supaya bersedia memeluknya dari belakang, memanggilnya “sayang” pura-pura, dan menemaninya orgasme sambil berpura-pura dia diinginkan bukan karena duit.

Dan aku?  
Aku cuma alat.  
Alat yang mahal.  
Alat yang dingin.  
Alat yang pulang ke kos sempit, tidur sendirian, dan besok pagi akan buka aplikasi lagi mencari klien berikutnya.

Mungkin kami sama-sama kesepian.  
Bedanya, dia membayar untuk lupa.  
Aku dibayar untuk ingat bahwa ini semua cuma bisnis.

Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya,  
aku memilih pulang.  
Ke kasur tipis, ke kipas angin berisik, ke kesunyian yang setidaknya jujur.
Gaya Hidup
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN