Cddl
Nuel Elastia
---
Di kamar kos yang sempit, lampu meja kuning temaram menyinari meja belajar. Asvin, mahasiswi semester akhir dengan kacamata tipis dan rambut panjang terikat ponytail, sedang fokus menyalin catatan.
Aku duduk di sebelahnya, pura-pura ikut belajar, padahal mataku lebih sering melirik dia.
Tiba-tiba pulpen Asvin jatuh ke lantai. Dia refleks membungkuk untuk mengambilnya.
Aku juga cepat membungkuk. Tangan kami hampir bersentuhan. Saat itu, mata kami bertemu.
Slow motion.
Waktu seolah berhenti. Pupilnya melebar, bibirnya sedikit terbuka. Aku tersenyum lembut, suaraku pelan tapi jelas, “Kamu manis kok.”
Muka Asvin langsung memerah seperti tomat matang. Pipinya panas, napasnya tersengal sebentar.
Dia buru-buru menunduk, tapi aku tak memberi kesempatan. Dengan satu dorongan pelan tapi pasti, tubuhku mendorongnya hingga punggungnya jatuh lembut ke kasur single yang berada tepat di belakang meja.
“Asvin… cuddle yuk,” bisikku sambil tersenyum nakal.
Dia gugup setengah mati. “Eh… nggak, aku masih belajar—” tangannya mencoba mendorong dada ku, tapi tenaganya lemah.
Tubuhku yang lebih besar dan tegap sudah menempel rapat ke tubuh rampingnya. Aku pegang kedua pergelangan tangannya, menahannya di samping kepala tanpa menyakiti.
“Lu emang gak capek belajar terus?” bisikku tepat di telinganya, napas hangatku menyapu daun kupingnya.
Asvin berusaha memberontak, menggeliat kecil, “Lepasin… aku serius nih…” Tapi suaranya gemetar, dan gerakannya tidak sungguh-sungguh. Tubuhnya malah semakin menempel saat aku mendekat.
Aku tersenyum melihat reaksi itu. Bibirku menyentuh leher jenjangnya, memberikan kecupan ringan, lalu endusan pelan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Lidahku menyapu cuping telinganya dengan lembut, lalu aku peluk pinggangnya erat, dada kami saling menempel.
“Nyaman kan?” bisikku lagi, suara serak penuh godaan.
Asvin mendesah. Suara kecil, manja, lirih sekali. “Mmmh…” Napasnya semakin cepat.
Matanya setengah terpejam, bibir bawahnya digigit pelan. Ternyata dia menikmati. Tubuhnya yang tadinya tegang mulai melunak, pinggulnya sedikit menggeliat mencari posisi yang lebih pas.
Aku semakin berani. Tangan kananku melepas pegangan, turun menyusuri pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya yang ramping tapi lembut.
“Kamu boleh bilang berhenti kapan saja,” kataku jujur, “tapi kelihatannya kamu nggak mau berhenti.”
Asvin hanya mendesah lagi, kali ini lebih panjang. Tangannya yang tadinya mendorong sekarang malah merangkul punggungku pelan-pelan.
“Kamu… jahat,” gumamnya malu-malu, tapi nada suaranya sudah penuh penyerahan.
Aku tertawa kecil di lekuk lehernya.
“Jahat yang bikin kamu nyaman gini?”
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya desahan manja yang keluar lagi saat bibirku kembali mengecup lehernya, tanganku membelai punggungnya naik turun dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat menggoda.
Tubuh kami saling menempel hangat di kasur sempit itu, napas kami bercampur, detak jantung kami seirama.
Malam itu, belajar sudah terlupakan. Hanya ada dua tubuh yang saling mencari kenyamanan, desahan lirih Asvin yang semakin sering, dan bisikan-bisikan nakal yang membuat pipinya semakin merah.
Dan dia, yang tadinya jual mahal, kini tak lagi menolak. Bahkan, tangannya kini memelukku lebih erat, seolah tak ingin aku berhenti.
