Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Aku Rela Jadi Boti Buat Dia, Meski Sakit Banget Sampai Mau Nangis




Malam itu kami bertengkar habis-habisan di kamar kost. Fyo marah besar karena aku menolak keras permintaannya.

“Lo harus jadi botinya gue malam ini! Gue udah sange banget, pengen ngentot lo sampe puas!” bentaknya sambil matanya merah.

Aku geleng keras. “Gue udah bilang dari awal, gue top! Lo yang bottom! Kita udah sepakat role masing-masing!”

Tapi Fyo malah mendadak bilang dia vers sekarang. 

“Gue pengen ngerasain jadi top sekali aja. Lo vers kan? Masa susah banget sih?”

Aku bingung setengah mati. Susah emang punya pacar yang vers. 

Tiba-tiba dia ngancam, “Pilih. Kita putus sekarang, gue cari boti lain yang nurut, atau lo yang jadi botinya malam ini. Pilih!”

Hah? Aku terdiam. Selama ini aku selalu top, nggak pernah kebayang pantatku ditusuk. 

Tapi aku sayang banget sama dia. Takut kehilangan. Akhirnya dengan suara pelan aku bilang, “Ya udah… gue rela jadi botinya lo malam ini.”

Seketika wajah Fyo berubah. Dari marah jadi lembut. Dia mendekat, memelukku erat, lalu mencium bibirku dalam-dalam. 

Lidah kami saling bertautan, panas, basah. Tangannya meraba-raba badanku, menelusuri dada, perut, sampai ke selangkangan yang sudah mengeras.

“Kamu cute banget kalo pasrah gini,” bisiknya sambil menjilati leherku.

Dia membuka bajuku satu per satu, menciumi setiap inci kulitku. 

Putingku dijilat, digigit pelan sampai aku mendesah. Tangannya meremas bokongku, jarinya mulai mengelus lubang belakangku yang masih kencang.

“Pelan-pelan ya…” pintaku.

Dia mengangguk, tapi matanya sudah gelap penuh nafsu. Dia mengolesi lubangku dengan banyak pelumas, jarinya masuk satu, lalu dua, mengocok pelan sampai aku menggeliat. Rasa aneh campur enak mulai muncul.

Akhirnya dia menempatkan kepala kontolnya yang besar dan keras di lubangku. 

“Masuk ya, sayang…”

Dia mendorong pelan. Sakit. Panas. Perih banget. Aku menggigit bibir.

“Ampun yank… sakit… pelan…” keluhku sambil menahan napas.

“Tahan bentar, nanti enak kok,” katanya sambil terus mendorong. 

Pelan tapi pasti, kontolnya masuk separuh. Aku merasa seperti mau robek.

Dia mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek pelan-pelan. Setiap dorongan membuatku meringis. 

Panas, perih, dan anehnya… ada rasa ingin berak yang kuat. Ternyata sesakit ini jadi boti.

“Ya Tuhan… yank… sakit banget… keluar dulu…” pintaku hampir nangis.

Tapi Fyo malah makin semangat. “Sabar, bentar lagi enak. Lo udah mulai longgar nih.”

Dia mempercepat gerakan. Sakitnya perlahan bercampur dengan sensasi aneh yang bikin kontolku ikut mengeras lagi. 

Tubuhku mulai berkeringat, napasku tersengal. Fyo mencium leherku, menggigit cuping telingaku sambil terus menggempur lubangku.

“Lo enak banget dalemnya… sempit… gue mau keluar di dalem lo ya…” desahnya.

Aku cuma bisa mengangguk lemah. Rasa sakit mulai berubah jadi kenikmatan yang aneh. 

Setiap dorongan sekarang membuatku mendesah pelan. Kontolku bergoyang-goyang, basah di ujung.

Fyo tiba-tiba mengerang keras, badannya menegang. “Aku keluar… ahhh…!”

Aku merasakan semburan panas di dalam perutku. Dia menyemprotkan banyak sekali, sampai terasa penuh. 

Setelah beberapa detik dia ambruk di atas tubuhku, napasnya tersengal.

Kami diam sejenak, hanya suara napas yang terdengar. Dia mencium keningku lembut.

“Makasih ya, sayang… lo luar biasa,” bisiknya.

Aku tersenyum tipis meski bokongku masih perih. “Besok gantian ya… gue yang top.”

Dia tertawa pelan. “Deal.”
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN