Kalau Botinya Secakep ini, Jadi Semangat
Nuel Elastia
---
Kontolku Makin Ngaceng Saat Dia Rebahan, Wajahnya yang Manis dan Lekuk Tubuhnya yang Indah Ramping Bikin Hasratku Meletup-letup
Aku berdiri di ambang pintu kamar, napas sudah memburu. Dia rebahan telentang di atas kasur putih, hanya mengenakan celana dalam tipis berwarna hitam yang sudah sedikit basah di bagian tengah.
Cahaya lampu tidur yang temaram membelai kulitnya yang putih mulus, membuat lekuk pinggangnya yang ramping dan bukit kecil yang kencang terlihat semakin menggoda.
Kontolku langsung ngaceng keras begitu mataku menangkap pemandangan itu.
Batangnya berdenyut-denyut, kepalanya sudah mengeluarkan cairan bening yang licin.
Aku melepas kaus dan celana dalamku dengan cepat, lalu naik ke atas kasur, menatap wajahnya yang manis itu.
Bibirnya yang mungil sedikit terbuka, napasnya pelan tapi berat. Matanya setengah terpejam, seperti sedang menanti sesuatu yang dia tahu pasti akan datang.
Aku merangkak mendekat, tanganku langsung merayap ke celana dalamnya.
Jari-jariku menyentuh kain yang sudah lembab itu, lalu menyelip ke dalam.
Lubangnya hangat, licin, dan sangat bersih—bau sabun mandi masih samar-samar tercium.
Bibir anusnya yang kecil dan rapat terasa lembut di ujung jariku.
Aku menggesek pelan, dia langsung mendesah pelan, “Mmmhh…”
Suara desahannya itu seperti candu. Aku tak tahan lagi. Aku menarik celana dalamnya ke bawah, membukanya lebar-lebar.
Kontolnya terpampang sempurna di depanku: merah muda, basah mengkilap, dan menggigil kecil menanti.
Aku memposisikan kontolku yang sudah keras banget di depan lubangnya, menggesek-gesek kepalanya di celah basah itu.
Lalu aku dorong pelan. Kepala kontolku langsung masuk, terasa hangat dan ketat.
Dia mendesah lagi, lebih panjang kali ini. Matanya terpejam rapat, alisnya berkerut nikmat.
Aku terus dorong sampai habis, sampai pangkal kontolku menempel di bibir boolnya.
Rasanya seperti memasuki surga—lembut, basah, dan sangat erat.
Aku mulai menggerakkan pinggul. Pelan dulu, menikmati setiap gesekan.
Setiap kali aku tarik keluar, dinding lubangnya seperti menyedot kontolku kembali masuk.
Aku percepat ritme, semakin dalam, semakin keras. Bunyi plak-plak basah memenuhi kamar, bercampur dengan desahan-desahannya yang semakin sering.
“Uhh… ahh… mmmhh…”
Dia tak bicara apa-apa, hanya mendesah dan menggigit bibir bawahnya.
Wajah manisnya memerah, keringat tipis membasahi dahinya.
Dadanya yang kecil bergoyang-goyang setiap kali aku sodok keras.
Aku memelintir putingnya yang sudah mengeras. Dia melengkungkan punggung, lubangnya semakin mencengkeram kontolku.
Aku tak tahan lagi. Aku angkat kedua pahanya tinggi-tinggi, memposisikan tubuhnya seperti ingin ditembus sampai ke usus.
Lalu aku hentakkan kontolku sekuat tenaga, masuk keluar dengan cepat dan dalam. Dia mulai menjerit kecil, suaranya parau penuh nikmat.
“Aaahhh… terus… terus…”
Akhirnya aku merasakan getaran hebat di pangkal kontolku. Aku sodok beberapa kali lagi, lalu meledak di dalamnya.
Spermaku menyembur panas, memenuhi lubangnya yang sudah banjir cairan.
Dia juga orgasme bersamaan, lubangnya berdenyut-denyut kuat, menjepit kontolku sampai aku gemetar.
Kami terdiam beberapa saat, hanya napas tersengal. Aku masih di dalamnya, merasakan sisa denyutan.
Dia membuka mata perlahan, menatapku dengan pandangan sayu penuh kepuasan.
Dan aku tahu, suatu aku akan kembali menikmati tubuh sempurna ini lagi.
