Cr00t di muka berkali kali
Nuel Elastia
---
Malam itu hujan deras banget di luar, tapi di dalam kamar kosku cuma ada suara napas berat dan desahan pelan.
Timo udah telanjang dada dari tadi, celana jeans-nya melorot setengah paha.
Dia duduk di pinggir kasur, badannya yang agak berotot karena rutin gym kelihatan berkilau keringat tipis.
Aku berlutut di lantai karpet, tangan kananku sudah pegang erat batangnya yang panas dan berdenyut.
“Pelan-pelan dulu, sayang… ahh, gitu,” bisik Timo sambil menatapku dari atas.
Matanya setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka.
Aku cuma nyengir kecil, nggak jawab. Tangan kiriku ikut main di bawah, mengelus bola-bolanya yang sudah kencang.
Gerakan tanganku naik-turun ritmis, kadang cepat, kadang pelan banget cuma ujung jari yang nyentuh kulitnya.
Timo mulai menggigit bibir bawahnya, tangannya meraih rambutku pelan, nggak narik, cuma pegang aja kayak takut aku kabur.
“Udah deket… cepet lagi dikit,” suaranya serak.
Aku nambah kecepatan. Jempolku main di kepalanya yang licin karena cairan pra-ejakulasi.
Timo mendadak menarik napas dalam-dalam, pinggulnya maju sedikit, otot perutnya menegang keras. Aku tahu ini detik-detik terakhir sebelum ledakan.
“Eh… eh… mau keluar…!” Timo mendesis, suaranya hampir putus.
Aku angkat muka, membuka mulut sedikit sambil tetap mengocok cepat.
Matanya membelalak, pupilnya melebar, lalu tubuhnya mengejang keras sekali.
Batangnya berdenyut kuat di tanganku—satu, dua, tiga kali—sebelum muncrat pertama kali.
Sperma hangatnya meluncur deras, tembakannya pertama langsung kena pipi kiriku, agak miring ke atas sampai nyaris kena kelopak mata.
Kedua muncratannya lebih kuat, tepat mengenai hidung dan bibir atasku.
Aku merasakan cairan kental itu mengalir pelan, hangat banget, hampir panas di kulit.
Tembakan ketiga dan keempat turun ke dagu, sebagian menetes ke leherku.
Aku nggak gerak, cuma diam menikmati sensasi itu—hangat, licin, dan baunya… entah kenapa enak, agak manis samar, nggak anyir sama sekali.
Timo masih menggigil kecil, napasnya ngos-ngosan.
“Sialan… kamu bikin aku lemes banget tiap kali gini.”
Aku ketawa pelan, lidahku menjilat sedikit yang ada di bibir.
“Enak, Tim. Pejuh kamu emang beda. Kentel, banyak, dan… seger gitu. Nggak kayak yang lain.”
Dia nyengir lelet, masih capek.
“Emang beda ya? Aku kan jarang rokok sekarang, cuma sesekali. Katanya pengaruh banget ke rasa.”
“Bener. Yang perokok biasanya anyir, agak bau amis. Yang gym macem kamu ini enak, kayak… susu almond dicampur garam dikit.”
Aku ngelap dagu pake punggung tangan, tapi sengaja biarin sebagian tetap nempel.
“Ini masker malam terbaik, bro. Lebih bagus dari skincare mahal.”
Timo geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.
“Gila kamu. Lusa aku bawa lagi ya? Kayaknya kamu ketagihan nih.”
Aku naik ke kasur, duduk di pangkuannya, masih dengan wajah yang belepotan.
“Bawa tiap hari juga boleh. Aku sih lebih suka beginian daripada ngentot. Ngerasain muncratnya langsung di muka… sensasinya beda. Hangatnya nyebar pelan, terus baunya nempel lama. Kayak… trophy kecil gitu.”
Dia peluk pinggangku, cium keningku yang masih bersih.
“Kamu aneh, tapi aku suka.”
Aku cuma nyengir, ngerasa puas. Di luar hujan masih deras, tapi di sini hangatnya beda.
Timo mungkin cowok ke-40 yang pejuhnya jadi masker malamku, pejuhnya juara. Besok aku tunggu lagi.
