Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Ketika video c⁰l¹ku tersebar




Di malam yang seharusnya hanya milik mereka berdua, Angga membiarkan dirinya telanjang bulat di depan kamera ponsel. 

Cahaya lampu meja yang temaram membelai kulitnya yang kecokelatan, menyorot lekuk dada bidang dan lengannya yang berotot sederhana namun tegas.

“Udah siap, tak buka ya?” katanya pada layar, suaranya serak penuh godaan, sambil jari-jarinya menyelip di pinggang sempak navy yang masih menempel ketat di selangkangannya.

Senyum nakalnya melebar saat kain terakhir itu melorot perlahan. 

Kontolnya yang sudah tegang terayun bebas, gemuk dan berotot, proporsional sempurna dengan tubuh slim atletisnya. 

Dia menggenggamnya perlahan, nafasnya mulai terengah. Di seberang sana, suara pacarnya—yang selama ini lembut dan manja—menggoda, “Lagi… pelan-pelan aja, sayang…”

Angga tak tahu, setiap detik gerakannya sedang direkam, bukan hanya untuk kenangan pribadi, melainkan untuk disebar. 

Malam itu berakhir dengan muncratan putih tebal yang melengkung jauh, mendarat di perutnya sendiri, di dada, bahkan hampir menyentuh dagu. Banyak. 

Terlalu banyak. Dan semuanya terekam jelas.

Pagi berikutnya, pesan berantai sudah bertebaran di grup kelas. Link video pendek itu menyebar lewat Messenger, lalu melompat ke X dengan caption-caption berani: 

“cowok kita ternyata jago main sendiri nih”, 

“badannya gila sih”, 

“ini beneran Angga ya? gokil”. 

Nama Angga menjadi trending kecil di kalangan sekolah dan kampus sekitar.

Awalnya dia panik. Ponselnya mati seharian, dia mengurung diri di kamar kos, selimut menutupi kepala. 

Tapi pesan demi pesan masuk: bukan cuma ejekan, melainkan pujian. 

“Ganteng banget sih pas lagi gitu”, 

“kontolnya bagus banget bro, respect”, 

“mau dong diajarin”. 

Bahkan ada DM dari akun-akun cewek yang selama ini hanya diam di story-nya.

“Kak, boleh minta kontak pribadi gak? penasaran…”

Angga akhirnya membuka ponsel lagi. Followers TikTok-nya melonjak dari 3 ribu menjadi 27 ribu dalam tiga hari. 

Instagram-nya tembus 15 ribu. Foto gym biasa yang dulu sepi like, kini banjir komentar mesum sekaligus kagum. 

Tubuhnya yang dulu hanya dipamerkan untuk motivasi olahraga, kini jadi objek hasrat kolektif.

Dia stres. Sangat stres. Setiap malam dadanya sesak, pikiran berputar pada wajah-wajah yang menontonnya, pada bisik-bisik di koridor, pada tatapan yang tak lagi polos. 

Tapi anehnya, di tengah kegelisahan itu, ada getar lain yang tumbuh—campuran malu dan… bangga?

Setiap kali dia berjalan di kampus, ada tatapan. Ada senyum-senyum kecil dari cewek-cewek yang dulu tak pernah menoleh. 

Bahkan cowok-cowok yang biasanya cuek kini menepuk pundaknya sambil berkata, “Gila lu, bro. Legenda.”

Malam itu, sendirian di kamar, Angga berdiri lagi di depan cermin besar. 

Dia melepas kausnya perlahan, membiarkan jari-jarinya menyusuri otot perut yang terdefinisi, turun ke garis V yang mengarah ke selangkangan. 

Matanya menatap pantulan dirinya sendiri—wajah manis yang kini terasa lebih tajam, lebih berbahaya.

Dia tersenyum kecil, nakal seperti di video itu.

Mungkin ini akhir dari Angga yang dulu—yang pendiam, yang malu-malu.

Mungkin ini awal dari Angga yang baru—yang tak lagi bersembunyi.

Dia meraih ponsel, membuka kamera depan.

Kali ini, dia tahu siapa yang akan menonton.

Dan dia tak lagi peduli.
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN