Sempak Merah Tipis itu
Nuel Elastia
---
Aku selalu membiarkan pintu kamar sedikit terbuka, kira-kira selebar telapak tangan.
Cukup untuk membiarkan angin sore masuk, cukup pula untuk membiarkan pandangannya menyelinap. Hanya aku yang tahu itu bukan kebetulan.
Setiap sore sekitar pukul enam, Franz pulang. Motornya menderu pelan di gang sempit, lalu mati.
Aku sudah hafal langkah kakinya—ringan, pasti, sepatu kanvas hitam yang sedikit berderit di ubin koridor.
Aku biasanya hanya memakai sempak saja, kain tipis yang menempel lembap di kulit karena keringat siang.
Kadang hitam polos, kadang abu-abu lembut yang sudah agak longgar di pinggul.
Aku berpura-pura sibuk: membalik halaman buku, menyisir rambut di depan cermin kecil, atau sekadar berdiri membelakangi pintu sambil mengipasi badan dengan majalah bekas.
Aku tahu dia melihat. Sekilas. Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat darahku berdesir seperti dawai yang ditekan terlalu kuat.
Franz adalah tetangga kamar. Tinggi, bahu lebar, kulitnya sawo matang yang selalu tampak sedikit berkilau setelah mandi.
Rambutnya pendek, sedikit acak-acakan, dan matanya selalu tenang, seolah dunia tidak pernah benar-benar mengusiknya.
Dia cool, kata anak-anak kos lain. Aku menyebutnya berbahaya, dalam arti yang membuat lututku lemas.
Aku sering membayangkan dia tidak hanya melirik, tapi berhenti. Dorong pintu itu pelan sampai terbuka lebar.
Langkahnya masuk tanpa suara, lalu pintu ditutup kembali dengan tumit kakinya.
Dia akan melepas jaket jeans itu, kaus hitam yang selalu sedikit ketat di dada, celana chino yang tergantung rendah di pinggul.
Aku membayangkan bau sabun mandi murah bercampur keringat segar, uap masih menempel di lekuk lehernya.
Aku membayangkan tangannya yang besar—jari-jarinya panjang, urat di punggung tangan menonjol—meraih pinggangku, menarikku ke dinding.
Bibirnya tidak bicara, hanya menempel di leherku, lalu turun, menjilat garis tulang selangka, menggigit kecil di puncak payudara sampai aku tersentak.
Tapi kenyataannya selalu sama. Dia lewat. Hanya lewat. Kadang aku mendengar napasnya yang pendek, seolah dia menahan sesuatu. Atau mungkin itu hanya harapanku yang berlebihan.
Hiburanku datang setelah dia mandi. Handuk putih melilit pinggang, rambut basah meneteskan air ke bahu dan dada.
Aku pernah menghitung langkahnya: delapan meter dari pintu kamar mandi ke kamarnya.
Delapan meter di mana aku bisa menikmati setiap gerak otot perutnya yang terlihat samar di balik kain tipis itu, garis V yang menghilang di bawah handuk, dan kadang—hanya kadang—handuk itu sedikit melorot saat dia membungkuk mengambil kunci.
Aku juga punya rahasia lain. Di jemuran belakang, di antara jemuran bajuku yang sederhana, selalu ada celana dalamnya.
Yang paling aku suka adalah yang merah gelap, kain tipis hampir tembus pandang, model mini brief yang membentuk lekuknya dengan sempurna.
Aku pernah mengambil satu, membawanya ke kamar, menekannya ke wajahku.
Bau sabun, sedikit keringat maskulin, sedikit sesuatu yang lebih dalam—aroma hasrat yang tak pernah dia ucapkan.
Aku menggosokkannya ke pipi, ke leher, ke antara paha, sampai kain itu basah oleh cairanku sendiri.
Aku adalah pengagum rahasia.
Aku adalah pencuri aroma.
Aku adalah tubuh yang menunggu di balik celah pintu, berharap suatu sore dia tidak lagi hanya melirik—tapi masuk, menutup pintu, dan mengambil apa yang selama ini kusodorkan tanpa kata.
