Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Saat Kami Digrebek Warga




Di dalam tenda kecil yang kami pasang di lereng hutan dekat pantai, udara sore terasa dingin di kulit. 

Namun tubuh kami panas, saling menempel setelah foreplay yang panjang. 

Bibir suamiku meninggalkan jejak merah di leherku, jari-jarinya baru saja membuatku menggigil beberapa kali.

Akhirnya dia menatapku dalam, mata penuh hasrat. 

“Mau sekarang, Sayang?”

Aku mengangguk cepat, kakiku membuka lebih lebar. 

“Masukin pelan ya… aku udah basah banget.”

Dia tersenyum tipis, memposisikan kepala penisnya di bibir vaginaku yang licin. 

Dorongan pertama pelan, aku merasakan dindingku terbuka perlahan, dipenuhi oleh kehangatan tebal yang kukenal baik. Sensasi penuh itu membuat napasku tersendat.

“Ahhh… enak, Mas…” desahku pelan saat dia masuk sampai pangkal.

Dia diam sejenak, membiarkanku menyesuaikan. Lalu pinggulnya mulai bergerak. 

Tarikan keluar meninggalkan gesekan panas di klitorisku, dorongan masuk menyentuh titik dalam yang membuatku melenguh tanpa sadar. 

Penisnya yang keras menggesek dinding vaginaku dengan ritme sempurna, setiap inci kulit sensitif terangsang.

“Enak ya? Mas makin keras lagi boleh?” bisiknya sambil mencium telingaku.

“Ya… lebih dalam, Mas… aku mau ngerasa kamu sampe ujung…” jawabku sambil memeluk punggungnya erat, kuku menancap ringan.

Irama semakin cepat. Suara basah “plok… plok…” pelan terdengar setiap benturan. 

Cairanku melimpah, membuat setiap sodokan licin dan dalam. Aku melenguh lebih keras saat ujung penisnya menyentuh serviks berulang-ulang. 

Kenikmatan menjalar dari selangkanganku sampai ubun-ubun, kakiku gemetar tak terkendali.

“Mas… aku mau keluar… jangan berhenti…” pintaku dengan suara parau.

Tiba-tiba terdengar suara langkah banyak orang. Awalnya samar, lalu jelas—ranting patah, bisik-bisik, sorot senter menerobos kain tenda.

“Apa itu?!” suamiku berhenti, kontolnya masih tertanam dalam tubuhku.

Belum sempat kami bereaksi, tenda digoyang keras. Beberapa tangan menarik kain dan tiang hingga roboh separuh. 

Suamiku ditarik kasar keluar tenda. Penisnya yang masih keras dan basah oleh cairanku tercabut mendadak dari vaginaku. Aku menjerit kecil karena sensasi kosong yang tiba-tiba.

“Woi! Keluar! Ada mesum di hutan kita!” teriak suara lelaki.

Suamiku terseret ke luar, kontolnya masih tegak basah oleh cairan vaginaku. 

Aku buru-buru menutupi tubuh dengan sleeping bag, wajah panas karena malu dan syok.

Sekelompok warga desa—sekitar sepuluh orang—berdiri mengelilingi kami. Beberapa memegang parang, tongkat. Kepala desa, pria tua berjubah hitam, maju.

“Ini apa?! Berbuat mesum di tanah leluhur!” bentaknya.

Suamiku berusaha menutupi kontolnya yang masih ngaceng. 

“Tunggu, Pak! Kami suami istri! Ini salah paham!”

Kami dibawa ke balai desa dengan tangan diikat kain. Untungnya kami selalu bawa surat nikah—kebiasaan suamiku yang paranoid kalau camping.

Di balai desa, setelah melihat surat nikah, suasana mereda sedikit.

Kepala desa menghela napas panjang. 

“Kalian memang sah menurut agama dan negara. Tapi… melakukan hubungan intim di tengah hutan begini tidak pantas. Hutan ini punya penunggu. Kalau kalian berbuat mesum di sini, bisa mendatangkan sial bagi seluruh desa. Norma sosial juga rusak. Anak-anak desa bisa mencontoh.”

Suamiku menunduk. 

“Maaf, Pak. Kami cuma ingin suasana beda. Kami tidak bermaksud merusak.”

Aku menambahkan pelan, “Kami janji tidak akan mengulangi lagi, Pak.”

Kepala desa mengangguk. 

“Baik. Kalian harus bayar denda satu juta rupiah untuk sesajen dan membersihkan area. Setelah itu boleh pulang, tapi ingat janji kalian.”

Kami membayar denda itu dengan uang tunai yang kebetulan dibawa. Malam itu kami tidur di penginapan desa, tanpa tenda, tanpa sentuhan, hanya saling memandang dengan senyum kecut.

Pagi harinya, saat meninggalkan desa, suamiku memegang tanganku erat. “Lain kali… hotel dengan balkon menghadap hutan aja ya?”

Aku tertawa kecil, masih merinding mengingat kejadian semalam. 

“Setuju. Tapi tetep bawa surat nikah.”
Nature
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN