Di Dunia Pelangi, Jangan Pake Perasaan
Nuel Elastia
---
Kamar kosnya sempit, pengap, seperti biasa di deretan kos pinggiran kota.
Dinding cat putih sudah menguning di sudut-sudut karena lembap, retak halus menjalar dari plafon seperti urat-urat yang lelah.
Lampu neon kecil di meja belajar menyala redup, bohlamnya kuning keemasan, membuat segalanya terlihat lebih intim sekaligus lebih muram.
Kasur single ditutup sprei biru tua yang sudah lusuh, bekas keringat kami berdua membentuk peta basah di tengahnya.
Selimut tipis terlempar ke lantai bersama celana dalam, kaus kaki, dan bungkus kondom kosong yang berserakan.
Aku mencabut penisku perlahan dari lubang anusnya.
Kondom lateks tipis itu masih membungkus batangku erat, ujungnya membengkak penuh sperma kental yang putih keruh.
Cahaya lampu menyinari cairan itu hingga tampak mengkilap, hampir seperti mutiara cair.
Aroma keringat, lateks, dan cairan tubuh kami memenuhi ruangan—bau seks yang pekat, tak bisa disembunyikan oleh hembusan kipas angin kecil yang berderit pelan.
Dia terbaring telentang, napas masih tersengal. Dadanya naik turun cepat, putingnya mengeras karena udara malam yang menyusup lewat celah gorden tipis.
Lubang anusnya masih terbuka sedikit, merah membengkak, licin oleh pelumas dan sisa-sisa gerakan kami tadi.
Wajahnya memerah, rambut basah menempel di dahi, bibirnya setengah terbuka seolah ingin bicara tapi tak punya tenaga lagi.
Aku melepas kondom dengan hati-hati, mengikat ujungnya, lalu membuang ke tempat sampah kecil di samping kasur—sudah penuh tisu bekas dan bungkus plastik lain.
Batangku masih setengah tegang, berkilau sisa pelumas. Aku bangkit, kaki terasa lemas, mengambil boxer dan jeans yang tergeletak sembarangan di lantai.
“Aku pulang dulu ya,” kataku sambil memakai kaus.
Dia hanya mengangguk lemah, mata setengah terpejam. Tak ada drama, tak ada pertanyaan “kapan ketemu lagi?”. Kami sama-sama paham aturannya.
Di dunia pelangi ini aku memang males pakai perasaan. Males punya boyfriend, males ribet sama chat tiap hari, males pura-pura punya masa depan bersama.
Buat apa komitmen kalau toh kami tak akan pernah bisa menikah? Tak akan punya anak.
Keluarga di rumah pasti menggeleng jijik kalau tahu. Jadi lebih baik begini: ketemu, ngentot sampai puas, keluar, lalu hilang.
Cukup saling melampiaskan nafsu. Selalu main aman—kondom wajib, tak sembarangan pilih pasangan, tak usah tanya nama asli kalau tak perlu.
Tubuh saja yang bicara, hati dibiarkan diam.
Aku meraih tas selempang, menoleh sekali lagi. Dia masih telanjang, hanya menutup sebagian badan dengan ujung sprei yang kusut.
Di meja kecil, buku kuliah berdebu, botol air mineral kosong, asbak penuh puntung.
Suara motor dan klakson dari jalan raya di bawah terdengar samar, mengingatkan bahwa dunia luar masih berputar.
Aku membuka pintu. Udara malam yang lebih dingin menyapu wajah. Pintu tertutup pelan di belakangku.
Aku turun tangga sempit yang berderit, lalu lenyap ke kegelapan jalanan.
