Pvt¹ng Cokelat Toro yang Bikin Candu
Nuel Elastia
---
Malam itu lampu kamar hanya menyisakan seberkas kuning temaram dari lampu meja.
Aku duduk di tepi ranjang, napas sudah tak karuan sejak Toro berdiri di depanku dan menarik kaus hitamnya ke atas kepala dengan satu gerakan lambat yang disengaja.
Begitu pundaknya terbuka, hatiku seperti dipukul pelan tapi dalam. Kulitnya sawo matang, licin oleh sedikit keringat malam.
Aku tak tahan. Tanganku langsung naik, membelai bahunya yang keras, lalu turun menyusuri lengan berotot itu.
Jari-jariku bergetar saat menyentuh dada bidangnya.
Puting cokelatnya berdiri tegak, lebih gelap dari warna kulit di sekitarnya, seperti dua titik cokelat pahit yang mengundang lidah.
“Toro…” suaraku serak sendiri.
Dia tersenyum kecil, mata setengah terpejam. “Sentuh aja, Mas. Gak usah malu.”
Aku menurut. Jempolku menggosok pelan salah satu puting itu, memutar kecil, lalu menjepit ringan.
Toro mendesis pelan, kepalanya terdongak sedikit. Suara desahnya seperti listrik yang langsung menyambar ke selangkanganku.
Kontolku sudah tegang maksimal di dalam celana dalam, nyeri karena terlalu penuh.
“Kamu tahu gak sih,” bisikku sambil tangan satunya turun ke pinggangnya, “setiap lihat badan kamu begini, rasanya pengen jelajah seharian.”
Toro tertawa kecil, suaranya bergetar karena sensasi yang kuberikan.
“Makanya jelajah aja. Aku kan milik kamu malam ini.”
Aku menariknya lebih dekat sampai lututnya menyentuh lututku.
Bibirku langsung mendarat di lehernya, mencium bau sabun dan keringat tipis yang membuat kepala pusing.
Tangan kananku turun, meraba tonjolan keras di balik celana pendeknya. Besar. Panas. Berdenyut.
“Udah ngaceng banget ya,” godaku sambil mengelus pelan dari luar kain.
“Salah siapa?” balasnya, napasnya tersengal. “Tadi pas mandi aku udah bayangin tangan kamu yang giniin aku.”
Aku menarik resleting celananya turun. Kontolnya langsung melompat keluar, kepalanya merah mengkilap, urat-uratnya menonjol.
Aku memegangnya erat, kulitnya panas di telapak tanganku. Gerakan pertama pelan, naik-turun, sambil jempolku menggosok kepalanya yang licin oleh cairan bening.
Toro mengerang keras. “Ahh… Mas… pelan dulu… nanti cepet keluar…”
“Emang mau keluar cepet apa lama?” tanyaku sambil mempercepat sedikit.
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya tangannya yang meraih pundakku, mencengkeram kuat.
Aku tahu dia sudah di ujung. Tangan kiriku naik lagi ke dadanya, memelintir puting kiri dengan sedikit kekuatan.
Puting itu mengeras lebih jauh, Toro menjerit kecil, pinggulnya maju-mundur mengikuti irama tanganku.
“Mas… aku… mau keluar… ahh—”
Aku mempercepat kocokan, tangan kananku bekerja cepat, sementara jari kiri terus memilin-milin putingnya tanpa ampun.
Tubuh Toro menegang, otot perutnya berkontraksi, napasnya tercekat.
“Keluarin, Tor. Kasih aku lihat…”
Dan dia meledak.
Pejuhnya menyembur kuat, melengkung jauh, mendarat di perutku, di pahaku, bahkan ada yang nyaris mengenai daguku.
Toro menggigil hebat, kepalanya jatuh ke pundakku, napasnya tersengal-sengal. Aku masih memegang kontolnya yang berdenyut-denut, memeras sisa-sisa sampai tetes terakhir.
Beberapa saat kami diam, hanya dengar napas masing-masing yang perlahan reda.
“Jauh banget tadi muncratnya,” kataku sambil tertawa pelan.
Toro mengangkat wajah, pipinya merona.
“Kamu yang jago mainin puting aku. Itu titik lemahku dari dulu.”
Aku mencium keningnya. “Besok lagi?”
Dia mengangguk lemah. “Besok lagi. Tapi gantian. Aku yang kocok kamu sambil cubit putingmu sampai merah.”
Aku tersenyum dalam hati. Kami memang sepakat—tak akan pernah masuk ke wilayah yang lebih dalam.
Cukup saling sentuh, saling puaskan dengan tangan dan mulut dan desah-desah malam. Sehat, panas, dan masih penuh rindu setiap kali bertemu.
Malam itu kami tidur saling memeluk, bau pejuh dan keringat bercampur jadi wewangian rahasia kami berdua.
