Mantan Gym-Godku Kalah Telak Sama Pacar Kurus yang Bikin Aku Puas Tiap Malam
Nuel Elastia
---
Malam itu kafe rooftop agak sepi. Angin malam Januari bertiup pelan, membawa aroma kopi dan parfum mahal Ander yang masih sama seperti dulu—kayu cendana bercampur musk berat.
Dia duduk di depanku, kaos ketat memperlihatkan lekuk dada dan lengan yang masih membengkak karena gym sore tadi.
Matanya menatapku dengan ekspresi setengah kasihan, setengah mengejek.
“Jadi sekarang ini boyfriend-mu, cowok kurus tulang gitu ya?” Ander menyeringai, mengaduk es kopinya pelan. “Serius, Rin? Aku kira kamu lebih punya selera.”
Aku hanya nyengir kecil, menyeruput latte-ku tanpa buru-buru menjawab.
Rudd memang bukan tipe anak gym. Tubuhnya slim, bahu lebar secukupnya, perut rata dengan garis-garis otot halus yang muncul kalau dia menegangkan badan.
Bukan six-pack bombastis seperti Ander, tapi justru itu yang membuatku selalu ingin menyentuhnya berulang-ulang—rasa kulitnya hangat, kenyal, dan hidup.
“Kurang lebih begitu,” jawabku santai. “Tapi kamu salah satu hal, Ander. Dia bukan kurus tulang. Dia ramping berotot. Dan yang paling penting…” Aku mencondongkan badan sedikit, suaraku turun jadi bisik. “Dia jauh lebih jago ngentot daripada kamu.”
Ander tertawa kecil, tapi aku tahu tawanya dipaksakan. “Oh ya? Berdasarkan apa?”
“Berdasarkan fakta.” Aku menatap matanya tajam.
“Kamu pure top, oke. Tapi setiap kali aku minta gantian, kamu malah keenakan jadi boti. Akhirnya aku yang capek, kamu yang crot duluan. Kontolmu kecil, cepet banget keluar. Aku ketipu badan atletismu, kukira kamu jago di ranjang. Ternyata cuma gimmick otot doang.”
Wajahnya memerah. Bukan karena malu, tapi karena kesal.
“Kamu ngomong gitu ke mantan sendiri?”
“Kenapa? Takut?” Aku tersenyum manis.
“Rudd beda. Dia gak pernah buru-buru. Dia tahu cara mainin aku pelan-pelan sampai aku gemetar minta ampun. Kontolnya…” Aku sengaja berhenti, membiarkan kata-kata menggantung seperti asap.
Ander menelan ludah. “Terus?”
“Lebih panjang. Lebih tebal. Berurat keras kayak akar pohon tua. Kepalanya besar, merah tua, selalu basah sebelum masuk. Dan kalau dia masuk… rasanya penuh sekali, Ander. Penuh sampai aku ngerasa mau pecah, tapi enaknya gila. Dia bisa tahan lama. Satu ronde bisa empat puluh menit, kadang sejam. Kamu? Lima belas menit paling lama, itupun udah megap-megap.”
Dia diam. Jari-jarinya mengetuk meja pelan, tapi aku tahu dia membayangkan.
“Dan yang paling bikin aku gila,” lanjutku, suara semakin rendah, “dia komunikatif. Dia tanya apa yang aku suka, dia dengerin desahanku, dia ganti ritme pas aku minta lebih dalam, lebih cepat, atau malah pelan-pelan sampai aku nangis keenakan. Kamu? Cuma dorong-dorong keras kayak mau ngebuktiin otot, terus selesai, tidur.”
Ander menatapku lama. Ada sesuatu di matanya—campuran iri, amarah, dan… hasrat yang tak bisa disembunyikan.
“Jadi sekarang kamu puas sama cowok kurus yang katanya jago di ranjang itu?”
Aku mengangkat bahu, lalu tersenyum lebar.
“Lebih dari puas. Tiap malam aku pulang dengan kaki gemetar, badan penuh kissmark, dan perasaan… lengkap. Kamu dulu cuma kasih aku badan bagus. Rudd kasih aku orgasme.”
Aku bangkit dari kursi, merapikan rok mini-ku yang sedikit naik tadi. Ander masih duduk, matanya mengikuti gerakanku seperti predator yang kehilangan mangsa.
“Selamat malam, Ander,” kataku lembut sambil membelai pipinya sekilas. “Jangan terlalu kangen ya. Aku udah dapat yang jauh lebih enak.”
Saat aku berbalik dan berjalan menuju lift, aku tahu dia masih memandang punggungku. Aku juga tahu, malam ini dia pasti akan membayangkan kontol Rudd yang besar dan berurat itu, masuk-keluar tubuhku dengan ritme sempurna yang tak pernah dia bisa berikan.
Dan entah kenapa, pikiran itu membuatku tersenyum lebih lebar.
