Kenapa Dia Bisa Setampan Ini?
Mereka berjalan keluar dari hotel, menyusuri trotoar dingin kota yang kering di musim kemarau.
Lampu jalan memantul di aspal, menciptakan pemandangan seperti cermin panjang yang berkilau.
Udara segar membawa aroma kopi dari kafe-kafe kecil yang masih buka.
Di sebuah warung pinggir jalan, mereka duduk berdua. Nanda menyandarkan dagu di tangan, matanya tak bisa berhenti menatap wajah Ozik yang diterangi cahaya lampu temaram.
Di bawah sinar itu, semua detail tampak lebih hidup—dan lebih berbahaya.
Hidung Ozik mancung, tapi tidak sombong; lekuknya tegas seperti hasil pahatan yang teliti.
Bibirnya tebal di bagian bawah, selalu tampak lembap dan seolah menyimpan senyum yang setengah malas tapi memikat.
Dagu Ozik berbentuk tegas, sedikit berotot, membuat garis rahangnya tampak jelas bahkan saat ia diam.
Dan sorot matanya—tajam, tapi lembut di saat bersamaan. Ada sesuatu di sana yang bisa membuat siapa pun lupa arah; pandangan yang seperti membaca isi kepala orang di depannya tanpa perlu bertanya.
Nanda menelan ludah pelan. Ia sudah mengenal Ozik sejak lama, dulu hanya sebagai sahabat yang bisa diandalkan.
Tapi kini, di bawah langit malam dan cahaya kota, sosok itu terlihat berbeda. Lebih matang, lebih hangat, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
“Kenapa ngelihatin aku gitu?” tanya Ozik, setengah tertawa.
“Cuma heran aja,” jawab Nanda cepat, menahan senyum. “Kok kamu makin... ya, gitu.”
“Gitu gimana?” Ozik mencondongkan badan, pura-pura penasaran.
Nanda pura-pura menatap ke arah lain, tapi tangannya tetap menggenggam lengan Ozik.
Ia bisa merasakan ototnya yang padat di balik jaket tipis. Lengan itu hangat, penuh tenaga, tapi juga membuatnya merasa aman.
“Ya... makin gak adil aja dunia ini,” ujarnya lirih, tapi cukup untuk membuat Ozik tertawa keras.
Seketika, suasana berubah ringan. Namun dalam tawa itu, Nanda tahu—ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di hatinya.
Campuran antara rasa nyaman dan keinginan yang sulit dijelaskan. Ia melirik lagi: dada bidang itu, perut yang rata di balik kaus polosnya, dan aroma sabun tubuh yang masih tersisa.
Siapa pun pasti betah duduk di samping cowok setampan itu. Tapi Nanda tahu, yang membuatnya benar-benar jatuh bukan cuma tampilan luarnya, melainkan cara Ozik memperlakukannya: dengan sabar, dengan humor, dan tanpa pernah memaksa.
Di antara uap makanan yang mengepul dan tawa kecil yang sesekali pecah, Nanda tersenyum dalam hati.
Malam itu ia sadar—liburan kali ini bukan sekadar pelarian dari rutinitas. Ini adalah momen ketika sahabat lama berubah jadi seseorang yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
