Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Brondong itu Topku




Ale berdiri di depan pintu apartemen Fidal, tas ransel masih di pundak, seragam SMA-nya sudah kusut karena perjalanan malam. 

Jam sudah lewat sebelas. Fidal membukakan pintu dengan wajah lelah tapi tetap rapi—kemeja putih lengan digulung, dasi sudah dilepas, aroma kopi dan parfum mahal masih menempel di kulitnya.

“Kamu gila ya dateng jam segini,” kata Fidal sambil menarik Ale masuk. “Besok kan Senin, kamu sekolah.”

Ale cuma nyengir, melempar tas ke sofa, lalu langsung mendekat.

“Aku kangen, Kak. Udah dua minggu loh.”

Fidal mundur selangkah. Matanya menatap Ale dari atas sampai bawah—wajah polos, rambut agak basah keringat, badan remaja yang masih ramping tapi mulai berotot karena basket.

“Ale… kita udah bicara berkali-kali. Kamu masih tujuh belas. Aku nggak mau—”

“Ya udah,” potong Ale cepat. 

Matanya berbinar nakal. “Kak Fidal nggak mau ngentot aku? Fine. Aku yang ngentot Kakak aja.”

Fidal tertawa kecil, tapi tawanya mati ketika Ale mulai membuka kancing seragamnya satu per satu. 

“Kamu serius?”

“Serius banget.” 

Ale menurunkan celana dalamnya. Kontolnya sudah setengah tegang, pinkish, lumayan panjang untuk ukuran tubuhnya yang mungil, urat-urat halus terlihat jelas di bawah lampu apartemen yang redup.

“Kakak cuma tinggal buka baju, rebahan, terus buka kaki. Gampang kan?”

Fidal menelan ludah. Dia tahu ini salah. Tapi Ale sudah mendekat, tangannya meraba pinggang Fidal, lalu turun ke bokongnya yang masih terbungkus celana bahan kantor. 

“Aku janji pelan-pelan dulu,” bisik Ale di telinga Fidal. “Tapi kalau Kakak udah basah sendiri, jangan salahkan aku ya.”

Malam itu Fidal menyerah.

Dia telentang di kasur king-size-nya, bantal ditumpuk di bawah pinggul, lutut ditekuk lebar. 

Ale mengoleskan pelumas dengan jari-jari yang gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena terlalu bersemangat. 

Fidal menggigit bibir bawah ketika jari Ale masuk, lalu dua, lalu tiga. “Santai, Kak… napas dalam-dalam…”

Ale memosisikan diri. Kepala kontolnya yang licin menekan lubang Fidal yang sudah merah dan berkilat. Fidal menarik napas tajam. “Pelan, Ale… pelan dulu—”

Tapi Ale malah mendorong sekali kuat. Setengah batang masuk sekaligus.

“AAAHH—!” Fidal menjerit, punggungnya melengkung. Matanya melebar. 

Rasa penuh, panas, dan nyeri bercampur jadi satu. Ale berhenti sejenak, tapi hanya sejenak. Dia menarik sedikit, lalu mendorong lagi—lebih dalam.

“Fuck… Kak… sempit banget…” Ale mendesah, suaranya bergetar. 

Dia mulai menggerakkan pinggul, pelan dulu, lalu semakin cepat. 

Setiap dorongan membuat Fidal mengeluarkan suara yang tak pernah dia keluarkan sebelumnya—campuran erangan, rintihan, dan isakan kecil.

Ale menunduk, mencium leher Fidal sambil terus mengentot.

“Kak Fidal… enak ya dientot anak kecil begini?”

Fidal tak bisa jawab. Dia hanya bisa mencengkeram seprai, air mata mengalir di pelipis karena sensasi yang terlalu kuat. 

Kontol Ale yang terlihat imut dan mulus itu ternyata ganas—menggempur dinding dalamnya tanpa ampun, mengenai titik yang membuat Fidal gemetar hebat.

Tiba-tiba tubuh Fidal menegang. Dia merasa ada yang pecah di perut bawahnya. “Ale—stop—aku mau—”

Terlambat. Ale mendorong dalam-dalam sekali lagi, dan Fidal menyemprot—bukan dari kontolnya yang sudah lembek karena tak disentuh, tapi dari uretra. 

Cairan bening menyembur kecil-kecil, membasahi perutnya sendiri. Dia terpipis-pipis karena terlalu nikmat, terlalu kewalahan.

Ale tertawa pelan, terus mengentot sampai akhirnya dia ikut mencapai klimaks, menyemprotkan banyak di dalam Fidal sampai lubang itu penuh dan meleleh keluar.

Setelah itu malam terasa hening, hanya napas mereka yang tersengal.

Fidal menatap langit-langit, masih gemetar. “Kamu… monster.”

Ale mencium keningnya.

“Monster kesayangan Kakak.”

Sejak malam itu Ale sering datang. Kadang langsung setelah pulang sekolah, kadang menginap Jumat-Minggu. 

Fidal yang dulu selalu jadi yang mengontrol, sekarang justru menanti Ale dengan lubang yang sudah terlatih—selalu licin, selalu siap.

Setiap akhir pekan, di apartemen lantai 27 itu, terdengar suara ranjang berderit, erangan Fidal yang semakin tak malu-malu, dan tawa kecil Ale yang puas.

“Kak Fidal suka ya… dientot brondong?” tanya Ale suatu malam sambil mengocok kontolnya di dalam lagi.

Fidal cuma mengangguk lemah, kakinya melingkar di pinggang Ale. “Suka… banget…”

Dan Ale terus mengentot—keras, dalam, tanpa ampun—sampai Fidal terpipis lagi, sampai dia lupa bahwa dia seharusnya yang lebih tua, yang seharusnya melindungi.

Tapi malam itu, dan malam-malam berikutnya, Fidal hanya ingin jadi milik Ale. Sepenuhnya.
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN