P³7uh Naki Sekarang Enak dan Segar
Pagi itu, Naki menatap dirinya di cermin. Rambutnya agak berantakan, tapi bukan itu yang membuatnya terdiam.
Ia teringat percakapan semalam dengan Fior, kekasihnya yang sudah dua tahun menemaninya dalam suka duka.
Fior berkata dengan nada lembut tapi jujur,
“Pejuhmu kok pahit ya, kamu ngerokok lagi ya?”
Awalnya Naki menganggap itu cuma obrolan iseng, tapi entah kenapa kalimat itu membekas.
Sejak beberapa bulan terakhir, ia memang tidak begitu memperhatikan gaya hidupnya. Rokok masih sering menempel di bibir, kopi kental dua gelas sehari, makanan cepat saji jadi menu rutin, dan air putih? Kadang lupa.
Siang itu, Fior datang ke kosnya membawa dua kotak bekal. “Aku masak sayur bayam, dada ayam rebus, dan potongan nanas,” katanya sambil tersenyum. Naki tertawa kecil.
“Wah, diet sehat ya? Kamu berubah banget sekarang.”
Fior duduk di kursi, menatap Naki yang masih memegang rokok di tangannya.
“Bukan soal diet, Ki. Tapi kalau kamu mau tubuhmu sehat, kamu juga harus peduli sama apa yang kamu masukkan ke dalamnya. Termasuk biar pejuhmu enak.”
Naki mengernyit, sedikit bingung dengan arah pembicaraan itu. Fior menjelaskan pelan, tanpa canggung.
Ia bilang bahwa rasa dan kualitas cairan tubuh—termasuk sperma—bisa berubah tergantung gaya hidup seseorang.
“Makanan, rokok, alkohol, bahkan kurangnya air putih, semua punya pengaruh,” ujarnya serius.
Percakapan itu membuat Naki terdiam lama. Ia tak pernah menyangka hal seperti itu bisa begitu ilmiah.
Malamnya, ia membuka ponselnya dan mulai membaca artikel tentang “5 faktor yang memengaruhi rasa sperma”.
Pertama, pola makan. Ternyata buah seperti nanas, pepaya, dan jeruk bisa membantu rasa jadi lebih segar karena kandungan gulanya. Sedangkan makanan dengan aroma kuat seperti bawang putih, daging merah, atau kopi bisa membuat rasanya lebih pahit.
Kedua, merokok. Nikotin dan tar bukan cuma merusak paru-paru, tapi juga memengaruhi cairan tubuh.
Ketiga, alkohol dan kafein. Dua zat itu bisa membuat tubuh dehidrasi, membuat rasa lebih pekat dan kurang segar.
Keempat, kesehatan umum, seperti kadar hormon dan metabolisme.
Dan kelima, kebersihan diri. Sesederhana rajin mandi dan menjaga area pribadi tetap bersih ternyata juga berpengaruh.
Keesokan harinya, Naki menatap rokoknya lama sebelum akhirnya mematikan bara terakhirnya.
Ia mulai mengganti sarapan mie instan dengan potongan buah dan air putih.
Fior memperhatikan perubahan kecil itu dengan senyum bangga.
“Aku cuma ingin kamu lebih sadar kalau tubuhmu pantas dijaga,” katanya lembut.
Minggu demi minggu, perubahan itu mulai terasa. Wajah Naki tampak lebih segar, nafasnya tidak sebau asap rokok lagi, dan yang paling penting—hubungan mereka jadi lebih sehat dan terbuka. Bukan cuma secara fisik, tapi juga emosional.
Suatu sore di taman, Naki menatap Fior yang sedang membaca buku.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “sekarang aku ngerti maksudmu waktu bilang tubuh itu cerminan gaya hidup. Aku merasa lebih baik, dan... lebih percaya diri.”
Fior menutup bukunya, menatap matanya.
“Karena kamu mau berubah, Ki. Dan itu hal paling keren dari seorang laki-laki—mau belajar memperbaiki diri, bukan demi orang lain, tapi demi kebaikannya sendiri.”
Angin sore menyapu rambut mereka. Di antara tawa ringan, Naki sadar: kadang cinta bukan tentang kata “aku sayang kamu”, tapi tentang dorongan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Fior mulai membuka resleting Naik, pelan tapi pasti, dia mulai mengendus penis Naki yang mulai mengeras.
Lalu dengan lembut Fior menjilati dan mengulum, menggoyang dengan lidahnya sambil memainkan puting Naki.
Selama 15 menit lebih, Fior memanjakan kontol Naki di mulutnya.
"Aku mau keluar," kata Naki.
"Aku ingin merasakannya," jawab Fior.
Dalam lenguhan panjang, cairan kental itu mulai terasa netral dan segar, tak lagi pahit.
Bau khas yang menyenangkan. Pejuh Naki terasa lebih nikmat sejak dia berubah pola hidupnya.
