Sp³rm⁴ yang Tak Mvncr⁴t di Sprei Kamar Hotel
Malam itu dingin menusuk kulit. Dari balkon kamar 305, Nanda melihat kabut turun pelan, seperti tirai tipis yang menutup kota kecil di bawah.
Ozik datang membawa dua cangkir cokelat panas, senyum di bibirnya yang selalu berhasil membuat Nanda geli sendiri.
Mereka baru saja selesai mandi air hangat, dan suasana kamar hotel yang wangi sabun dan lembap itu mulai berubah arah—lebih pribadi, lebih dekat.
Tapi di tengah keintiman itu, Nanda malah tertawa kecil.
“Eh, Zi... kalau misal sperma kamu nyiprat ke sprei, kita bisa kena denda, gak sih?” tanyanya polos tapi dengan nada iseng.
Ozik tertegun, lalu tertawa terbahak.
“Denda? Masa iya?”
Nanda menunjuk notifikasi yang sempat ia baca di ponselnya: ‘
Tamu wajib menjaga kebersihan sprei dan kasur, noda cairan tubuh dapat dikenai biaya ganti rugi.’
“Lah, jadi beneran bisa didenda dong?” gumam Ozik, setengah geli setengah khawatir.
Ia teringat unggahan viral: pasangan yang kena denda lima juta karena meninggalkan bercak misterius di kasur hotel bintang empat. Ternyata bukan mitos.
Mereka saling pandang sebentar, lalu sama-sama tertawa lagi, tapi kali ini dengan nada lebih serius.
“Oke, berarti kita harus main bersih,” kata Nanda, mengambil handuk putih besar dari rak.
“Ini alas, biar gak nempel di sprei. Aman dan steril.”
Ozik mengangguk, kali ini dengan wajah seperti teknisi sedang menyiapkan alat eksperimen.
“Kamu tahu gak, kalau noda sperma tuh susah banget dibersihin? Ada protein dan enzim yang bikin dia nempel kuat di serat kain. Jadi ya, housekeeping bisa langsung tahu kalau ada bekasnya.”
“Makanya kamu jangan nyiprat sembarangan,” balas Nanda cepat, menahan tawa.
Mereka pun mulai ‘beraksi’ dengan hati-hati. Setiap gerakan diatur agar tidak terlalu liar, handuk selalu di posisi strategis, dan tisu basah standby di meja samping.
Bukan cuma urusan gairah, tapi juga logistik kebersihan. Ozik sempat berkata,
“Ini kayak praktikum biologi, bukan malam romantis.”
Namun justru karena itu, ada semacam kedewasaan baru yang tumbuh di antara mereka.
Bahwa keintiman bukan hanya tentang tubuh yang bertemu, tapi juga tentang tanggung jawab kecil yang sering diabaikan—seperti menjaga agar kasur hotel tak berubah jadi TKP.
Setelah semuanya selesai dan kamar kembali tenang, mereka menatap sprei yang masih putih bersih seperti semula.
“Misi sukses,” kata Nanda sambil mengangkat jempol.
Ozik tertawa kecil. “Kalau begini, housekeeping gak bakal curiga apa-apa.”
Sebelum tidur, mereka sempat membahasnya lagi. Ozik bilang, banyak orang yang tak sadar bahwa noda kecil bisa berujung denda besar, karena hotel harus mencuci ulang, kadang bahkan mengganti linen baru.
Bagi pihak hotel, itu bukan soal moral, tapi soal biaya operasional.
Nanda menatap langit-langit. “Jadi pelajaran ya, Zi. Cinta itu bukan cuma soal panasnya, tapi juga soal gimana caranya gak bikin repot orang lain.”
Ozik mematikan lampu, menarik selimut, lalu menjawab lirih,
“Dan tentang gimana caranya tetap bersih—secara literal dan moral.”
Di luar, hujan mulai turun. Di dalam, kamar tetap hangat, bersih, dan bebas denda.