Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Abel Baru Sadar Saat Wajahnya Dipenuhi P³jvh Denis!




Abel berbaring telentang di atas kasur hotel yang sudah berantakan, napasnya masih tersengal-sengal setelah ronde ketiga malam itu. 

Denis berdiri di depannya, tangan masih memegang kontolnya yang setengah tegang, ujungnya masih meneteskan sisa-sisa pejuh putih kental. 

Dengan gerakan kasar tapi penuh nafsu, Denis mengarahkan muncratannya yang terakhir tepat ke wajah Abel. 

Pejuh hangat itu menyemprot pipi, hidung, bibir, bahkan masuk sedikit ke mulutnya yang terbuka karena terkejut.

Abel menutup mata sejenak, merasakan cairan itu mengalir pelan di kulitnya. 

Tapi begitu dia menjilat bibirnya secara refleks, matanya langsung terbelalak. Rasanya... aneh.

Pahit. Tajam. Seperti abu rokok yang dicampur air garam.

Bau amisnya juga menusuk hidung, lebih kuat dari biasanya, seperti amis amis amis yang sudah basi, campur bau asap tembakau yang menempel di badan Denis.

"Den... ini kenapa pejuhmu encer banget? Dan baunya... bau rokok banget," gumam Abel sambil menyeka wajahnya dengan punggung tangan. 

Pejuh itu memang lebih cair dari biasanya, hampir seperti air bening yang dicampur susu encer, bukan yang kental dan lengket seperti yang dia ingat dulu.

Denis tertawa kecil, masih mengocok kontolnya pelan sambil menatap Abel dengan mata penuh dosa. 

"Biasa, sayang. Tiap hari ngerokok dua bungkus. Katanya sih bikin sperma jadi gini. Encer, bau, rasanya nggak enak. Tapi kamu kan suka aku muncratin di muka kamu, ya?"

Abel mengerutkan kening, tapi anehnya, meski rasanya pahit dan baunya menyengat, ada sesuatu yang membuat lubangnya berdenyut lagi. 

Mungkin karena vulgarnya momen itu, atau karena Denis yang begitu dominan. 

Dia menarik napas dalam-dalam, mencium bau rokok yang menempel di pejuh itu, dan tanpa sadar menjilat lagi sisa-sisa di bibirnya.

"Serius, Den. Aku baca-baca, merokok beneran bikin sperma rusak. Jumlahnya berkurang, gerakannya lelet, bentuknya cacat. Terus cairannya jadi encer karena kelenjar prostat dan vesikula seminalisnya stres gara-gara racun rokok. Nikotin sama tar itu bikin radikal bebas ngerusak sel-selnya. Makanya baunya jadi lebih amis, lebih busuk, kayak napas perokok yang nggak ilang meski sikat gigi."

Denis mendekat, jongkok di depan Abel, jarinya menyeka pejuh di pipi Abel lalu memasukkannya ke mulut gadis itu. 

Abel mengisap jarinya pelan, merasakan kepahitan itu lagi.

"Terus rasanya kenapa pahit gini? Kayak kopi item tanpa gula."

"Karena metabolit rokok masuk ke cairan tubuh, termasuk semen. Nikotin sama zat sulfurnya bikin rasanya lebih tajam, lebih getir. Banyak yang bilang semen perokok rasanya seperti asam atau pahit banget. Kalau nggak merokok, katanya lebih manis, lebih enak ditelan."

Abel tersenyum nakal, meski wajahnya masih belepotan pejuh. 

"Makanya kamu berhenti merokok dong, biar aku bisa nyedot kontol kamu sampe habis tanpa mual."

Denis tertawa, lalu menarik Abel berdiri. 

"Nanti dulu. Sekarang kamu bersihin mukanya dulu. Atau... mau ronde lagi? Kali ini aku muncratin di mulut kamu langsung, biar kamu rasain bedanya kalau aku berhenti ngerokok."

Abel mengangguk, matanya berbinar. Dia tahu, meski pejuh Denis sekarang encer, bau, dan pahit karena rokok, tapi justru itulah yang membuat malam itu terasa lebih liar, lebih kotor, lebih erotis. 

Dan siapa tahu, kalau Denis berhenti merokok, pejuhnya bakal jadi lebih kental, lebih harum, dan lebih enak... tapi untuk saat ini, Abel rela menelan kepahitan itu, asal Denis terus memuaskannya seperti tadi.
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN