Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Aku Akhirnya Genjod Dia




Setelah chat panjang yang bikin kepala pusing, akhirnya aku bilang ke Zumi:

“Oke. Aku mau coba. Tapi pelan-pelan ya, aku beneran nol pengalaman nge-top.”

Dia cuma balas pendek, tapi bikin jantungku bergetar:

“Tenang. Aku yang ngajarin. Kita lakuin bareng, pelan-pelan, sampe kamu nyaman.”

Dua hari kemudian dia datang ke kosku. Bukan buru-buru kayak Jeremi atau Niko. 

Dia bawa dua gelas es kopi susu, bunga mawar kecil warna peach, dan pelukan panjang di pintu sebelum masuk. 

Bau parfumnya yang soft bikin aku lemes duluan.

Kami ngobrol dulu di kasur. Beneran ngobrol. Tentang hari ini, tentang lagu yang lagi dia dengerin, tentang aku yang grogi banget. 

Tangan kami saling gandeng, jempolnya ngusap-ngusap punggung tanganku. 

Lama-lama ciuman mulai datang—pelan, basah, dalam. Lidahnya main lembut, gak buru-buru. Aku merasa dicintai, bukan cuma dinikmati.

“Zu… aku takut gak bisa bikin kamu enak,” bisikku pas baju kami udah lepas semua.

Dia tersenyum, matanya sayu penuh nafsu tapi juga penuh kasih.

“Kamu gak perlu jago. Kamu cuma perlu sayang sama aku. Sisanya aku yang atur.”

Dia ambil posisi merangkak di kasur, bokongnya terangkat sempurna. 

Kulitnya mulus, lubangnya sudah agak berkilau karena dia pakai pelumas sebelumnya. 

Aku ngeliatin itu semua sambil kontolku berdenyut keras—campuran grogi, penasaran, dan pengen banget.

“Pegang dulu pinggulku,” katanya lembut. “Pelan-pelan masukin ujungnya aja dulu.”

Aku pegang pinggulnya. Hangat. Lembut. Aku arahkan kepala kontolku ke lubangnya yang sudah licin. 

Dorong pelan… masuk sedikit… dia mendesah panjang.

“Aaaah… iya gitu… pelan lagi…”

Aku dorong lagi. Masuk setengah. Panasnya luar biasa, sempit, berdenyut. Aku gemetar sendiri.

“Zu… enak banget…” suaraku serak.

Dia menoleh, wajahnya memerah, bibirnya setengah terbuka.

“Terusin… genjot aku pelan dulu… biar aku biasain…”

Aku mulai gerak maju mundur. Amatir banget. Kadang keluar sedikit, kadang masuk terlalu dalam sampai dia meringis kecil. Tapi setiap kali aku salah ritme, dia ngasih arahan manja:

“Agak ke atas dikit… iya… gitu… lebih pelan… ahhh… enak…”

Semakin lama semakin nyambung. Desahan kami mulai nyatu. 

Aku ngerangkul pinggangnya dari belakang, dada menempel punggungnya, bibirku menciumi tengkuknya. 

Bau keringatnya bercampur parfum bikin aku makin liar.

“Zu… aku… aku sayang banget sama kamu…” kataku di sela-sela hentakan yang mulai lebih dalam.

Dia menoleh lagi, matanya berkaca-kaca, suaranya gemetar:

“Aku juga… sayang kamu… banget…”

Aku percepat sedikit. Gak kasar, tapi lebih dalam, lebih penuh. Kontolku terasa dipijat habis-habisan sama dinding dalamnya. 

Dia mulai mendesah lebih keras, bokongnya ikut maju-mundur menyambut.

“Sayang… aku mau nembak kamu sekarang…” kataku sambil terus menggoyang pinggul.

Dia tertawa kecil di tengah desahan.

“Nembak… pas lagi… ngewe aku…?”

“Iya… mau gak… jadi pacarku… Zu?”

Dia diam sejenak, cuma desahan panjang yang keluar dari mulutnya. Lalu dengan suara manja, hampir merengek:

“Iya… mau… jadi pacarmu… sayang…”

Saat dia bilang “sayang”, seluruh tubuhnya menegang. Lubangnya mengerut kuat sekali, memijat kontolku habis-habisan. 

Aku belum sempat crot, tapi dia tiba-tiba menggelinjang hebat.

“Aaahhh… sayang… aku… keluar… hngggg!!”

Pejuhnya muncrat sendiri tanpa disentuh sama sekali. Kental, banyak, netes-netes ke sprei. 

Tubuhnya bergetar-getar, bokongnya menekan ke belakangku, seperti minta lebih dalam lagi. 

Dia crot cuma karena perasaan, karena kata “sayang”, karena aku nembak dia pas lagi di dalam tubuhnya.

Aku ikut gak tahan. Beberapa hentakan lagi, aku dorong dalam-dalam, crot di dalamnya. Panas, banyak, penuh. 

Kami berdua ambruk bareng ke kasur, napas ngos-ngosan, pelukan erat, keringat bercampur.

Dia membalik badan, mencium bibirku lama sekali.

“Jadi sekarang aku pacarmu ya?” tanyanya sambil tersenyum malu-malu.

Aku cuma bisa mengangguk, masih gak percaya.

“Iya… pacarku. Yang suka diewe… tapi aku sayang banget.”

Dia tertawa kecil, lalu memelukku lebih erat.

“Besok ajarin aku lagi ya… biar aku makin jago ngewe kamu.”

“Deal,” bisiknya sambil mencium keningku. “Tapi malam ini… peluk aku aja dulu sampe pagi.”

Dan kami tidur begitu—telanjang, lengket, penuh peju, tapi yang paling penuh adalah perasaan.

Akhirnya aku bukan cuma tempat buangan sperma.  
Aku rumahnya. Dan dia rumahku.

By Alfredo
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN