Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
KILAS RASA
memuat
Memuat konten...

Gantian Itu Ternyata Bikin Nagih Banget




Hampir satu jam penuh aku menggempur lubang pantat Toni tanpa henti. 

Herbal oil bio yang aku pakai bikin batangku keras kayak besi, urat-uratnya menonjol, dan durasinya jadi gila-gilaan. 

Toni sudah megap-megap, bokongnya merah karena kena tamparan dan remasan, tapi dia masih sempat nanya dengan suara serak,

“Belum keluar ya, sayang?”

“Belum,” jawabku sambil tetap nyodok pelan-pelan biar sensasinya makin dalam.

“Gantian yuk…” pintanya manja, matanya basah penuh nafsu.

Aku cabut kontolku yang masih terbungkus kondom basah kuyup lendir dan pelumas. 

Batangku berdiri tegak sempurna, kepalanya mengkilap, uratnya berdenyut keras. 

Aku rebahan, angkat kedua paha lebar-lebar, membuka diri sepenuhnya.

Toni buru-buru pasang kondom baru di kontolnya yang lumayan tebal dan panjang. 

Dia tuang pelumas banyak-banyak, mengocok sendiri sampai licin mengkilap, lalu mendekat. 

Ujungnya langsung menempel di lubang pantatku yang sudah agak kendur karena tadi aku yang aktif.

Dia dorong pelan… sleep… sleep… lalu tiba-tiba—

BRUKK!

Satu hentakan kuat sampai pangkal. Aku langsung mendesis keras,

“AHHH… sialan… dalem banget!”

Rasanya prostatku ditekan habis-habisan. Sperma yang tadi tertahan berjam-jam di dalam kayak langsung terdorong keluar sedikit-sedikit setiap Toni menggenjot. 

Cairan bening kental menetes dari ujung kontolku yang masih keras banget, tanpa disentuh sama sekali.

“Enak ya sekarang jadi boti?” Toni nyengir sambil terus menggoyang pinggulnya maju mundur, pelan tapi dalam.

“Bangsat… enak banget… terus… jangan pelan!” aku merengek, tanganku meremas sprei kuat-kuat.

Dia percepat ritme. Plok… plok… plok… bunyi pantatku ketemu paha Toni makin kencang. 

Setiap hentakan bikin lubangku berdenyut, seperti ada ribuan listrik kecil menyambar-nyambar di dinding rectum. 

Kontolku yang tadi sudah satu jam menggempur orang lain sekarang malah bergetar-getar sendiri, ujungnya mengeluarkan tetesan bening terus-menerus.

Tiba-tiba Toni membungkuk, mencium leherku sambil berbisik mesum,

“Aku mau keluar nih… mau nembak di dalem… boleh?”

Aku cuma bisa mengangguk sambil menggigit bibir. Lalu aku pepetkan kedua paha kuat-kuat, menjepit pinggangnya supaya kontolnya masuk lebih dalam lagi.

Toni menggeram panjang,

“Arghhh… ketat banget… ahhh!”

Dia genjot lebih kencang, lebih brutal. Aku merasakan kepala kontolnya membentur titik paling sensitif di dalam berulang-ulang. 

Prostatku seperti dipijat kasar, ditekan, digesek… sampai akhirnya—

Croot… croot… croottt!

Spermaku meledak tanpa disentuh sama sekali. Cairan kental muncrat tinggi, mengenai perutku sendiri, dada, bahkan ada yang nyiprat ke dagu. 

Tubuhku mengejang hebat, lubangku berkedut-kedut mencengkeram kontol Toni kuat sekali.

Toni ikut klimaks di detik yang sama. Dia menekan pinggulnya dalam-dalam, kontolnya berdenyut panjang di dalamku, mengisi kondom dengan banyak banyak cairan panas. 

Aku bisa merasakan setiap denyutan itu melalui dinding tipis kondom.

Kami sama-sama ambruk, napas tersengal-sengal. Toni masih di atas, kontolnya perlahan lembek di dalam lubangku yang sekarang basah, licin, dan berdenyut pelan.

“Gimana rasanya jadi boti setelah lama jadi raja top?” tanyanya sambil nyengir nakal.

Aku cuma bisa tertawa kecil, masih lemas,

“Bangsat… ternyata enak banget. Ketagihan nih.”

Sejak kenal Toni, hidupku di dunia pelangi berubah drastis. Aku yang tadinya pure top 100%, sekarang malah sering ketagihan jadi bottom di menit-menit akhir. 

Porsi memang masih 70-30, aku tetep yang dominan menggempur lebih lama. 

Tapi klimaksnya? Hampir selalu Toni yang nyodok aku sampai aku muncrat tanpa pegang.

Dan anehnya… aku suka.  
Aku suka rasanya lubangku diregangkan, dipenuhi, digenjot sampai prostatku menyerah. 

Aku suka saat spermaku keluar sendiri hanya karena ditodong dalam-dalam. 

Aku suka saat Toni berbisik mesum di telingaku sambil terus menggoyang pinggul.

Mungkin ini yang namanya vers sejati. Gak harus milih satu posisi selamanya.  

Kadang jadi raja yang menguasai, kadang jadi pelacur kecil yang minta dihajar habis-habisan.

Dan Toni… dia pintar sekali mainin keduanya. Skill nyodoknya juara, ritmenya pas, kekuatannya pas, dan yang paling bikin nagih: dia selalu tahu kapan harus pelan, kapan harus brutal.

Jadi ya… gantian ternyata bukan cuma “boleh juga”.  
Gantian itu candu.  
Dan aku sudah kecanduan berat.
Gaya Hidup
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN